Si Boru Natumandi

Dahulu kala sewaktu penduduk yang mendiami Rura (Lembah) Silindung masih memeluk kepercayaan Sipelebegu, hiduplah seorang Raja yang kaya, besar dan bersahaja. Mereka hidup dengan damai di sebuah huta di tepi sungai Aek Situmandi yang bersih dan jernih. Tempat tinggal raja itu berada di seberang Huta Siparini sekarang. Huta Siparini terletak di kaki Dolok (Gunung) Siatas Barita. Dolok Siatas Barita adalah tempat “Pamelean” keturunan Guru Mangaloksa sewaktu belum masuk agama Kristen ke Rura Silindung.

Walaupun Dolok Martimbang lebih tinggi dari Dolok Siatas Barita, itu tidak masalah bagi mereka karena guru Mangaloksa pertama sekali mendirikan huta di kaki Dolok Siatas Barita. Dari sanalah awalnya guru Mangaloksa bersama keturunannya mendiami seluruh Rura Silindung. Oleh karena itu, Dolok Siatas Barita merupakan tempat “Dolok Parsaktian” bagi keturunan Guru Mangaloksa sekaligus menjadi tempat Pamelean zaman dahulu. Lanjutkan…

Raja na Burju dohot Ama ni Holit Mangging

Dian Sidauruk, Kuta – Bali, 13 Sept 2008

Illustrasi ini berhubungan dengan Amani Holit Mangging (yang rakus)

Mangihuthon turi-turian, di nagori Batarasiang adong do sahalak raja naburju jala parlambas roha. Malo jala mura mengkel suping. Ganteng jala namora jong. Tanona do sude luat Batarasiang. Puhut jala gogo mangula arian borngin.  Las do rohani sude jolma mida raja on. Dua ma niolini raja on. Sangaja do dioli raja i dua, ai sada tohonan do i di ibana – asa pas dua- ima ra nanidokni tohonan i. Alai na sabulan naung salpu matema sada niolina i. Humasilsal ma sude soridaluni harajaon i mangalului sada nari. Ise naolo pasurathon dirina? Ketik reg spasi batarasiang spasi goar. Pahatop be ma, bulan na ro pamilihan, unang tarlambat da! Ise natarpillit pintor diboan do maredang-edang  tu porlak eden! Lanjutkan…

Surat tu Dainang

Surat ini kudapatkan dari Bang Togi Sianipar

Oleh : Amani Harapan MArbun,

Sumber : Terjemahan bebas dari buku Cermin Kaca Retak, karangan Bung

Laris Naibaho

Jakarta, 16 July 2008

Tumopothon, na huparsangapi jala na huhaholongi, dainang pangintubu

di huta

Horas ma inang nauli basa,

Hipas do hami dison, au borum dohot helam, songonima nang pahompum na tolu i, si alex, si si Bram nang si Tikkos, hipas-hipas do hami dison, suang songoni ma nian ho pe inang nabasa, nauli lagu, sai anggiat ma dibagasan pangaramotion na sian Tuhanta pardenggan basa i, na mangalehon akka hahipason dohot ganjang ni umur di ho inang nauli lagu. Lanjutkan

Apa Sih Ciri-Ciri Orang Batak?

Stttt….aku belum permisi sama yang punya tulisan… :D [permisi ya Mbak, diposting di sini, heuhehehe...]

Teman yang bercerita di bawah ini sudah pernah kuceritakan di sini

Pertanyaan ini menyeruak di kepalaku saat seorang teman menyatakan bahwa salah satu tindakanku menunjukkan aku orang Batak. Ceritanya siang tadi aku mengobrol intens dengan seorang teman melalui Y!M (hehehe ketahuan deh gak ada kerjaan), dari sekian panjang baris demi baris obrolan kami (ketahuan kan ada 2 orang yang gak ada kerja…), di salah satu line obrolan tiba-tiba dia menuliskan “Ih kelihatan kali Bataknya!” Aku agak kaget juga membaca tulisannya, karena saat itu kami sedang membicarakan salah satu tindakanku yang kurang bagus. Bahkan sebagai bukti pendukung teman ini memberikan link tentang seorang perempuan Batak yang melakukan tindakan yang agak berani (kalo mau tahu lebih jelas PM aja ya..).

Aku seringkali gak pede untuk mengidentifikasikan diri sebagai orang Batak, alasannya aku gak bisa, gak paham bahasa Batak, aku merasa gak punya kampung di tanah Batak soalnya lahir di Jakarta bahkan mulai dari nenekku dan nyokap udah lahir di Jakarta, di belakang namaku gak ada tempelan marga dan yang lebih parah lagi aku juga gak paham adat istiadat orang Batak. Keluargaku sedikitnya memang masih memegang tradisi Batak, tapi hanya sebatas panggilan saja seperti Opung, Uda, Nang uda, Tulang, Nang tulang, Bujing, Namboru.

Ada lagi cerita seorang teman yang cukup menarik,  dia merasa sudah terlalu lama di tanah Jawa, tidak menggunakan marga dan sudah kurang menjalankan adat istiadat Batak juga, tetapi dia selalu  dengan berani mengidentifikasikan diri sebagai orang Mandailing, bukan orang Batak. Duhh…, aku tambah bingung. Apa benar orang Mandailing bukan orang Batak?

Kalau dari hasil pengamatanku, perempuan Batak umumnya kuat dan pekerja keras. Aku merasa aku punya ciri-ciri ini. Kalau dari penampilan, orang seringkali gak percaya aku orang Batak karena katanya tampangku lebih cocok orang Indonesia Timur gitu. Please deh….rambutku gak keriting! Kalau katanya orang Batak pintar nyanyi, kayaknya aku jauh deh dari pintar nyanyi. Aku sebatas penikmat aja.

Coba kasih masukan, apa sih ciri-ciri orang Batak?

sumber: anakgajahimut

Resep Sambal Tuktuk di Blog

Aku dengar-dengar (artinya: informasinya tidak akurat :D ), kalau sekarang sistem penerimaan mahasiswa baru di beberapa/ banyak universitas-universitas negeri di Indonesia, sudah berbeda dengan sistem yang dulu diterapkan. Kalau dulu kan, mau mendaftar di universitas mana saja, ujiannya bisa di mana saja. Sekarang? Kalau mau melamar ke Universitas Indonesia misalnya, pergilah ke Jakarta dan ujianlah di sana. Kalau mau melamar ke ITB, datanglah ke Bandung. Demikian yang seterusnya dan seterusnya.

Apakah pemerintah memang sengaja mempersulit calon-calon mahasiswa dan mahasiswi, generasi muda penerus bangsa? Setelah pada Ujian Akhir Nasional, pemerintah juga menaikkan standard nilai kelulusan (tapi tidak menaikkan mutu belajar selama menuntut ilmu tiga tahun)? Hmm…pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karna aku pun belum menanyakan langsung alasannya kepada pemerintah Indonesia, heuhehehe…kalimat terakhir ini hanya bercanda. Lanjutkan…

Dari Sekolah Gondang Laguboti

Diposting atas izin dari: http://www.batakmusic.com

Horas,
Apakah tulisan di atas bisa saya copy-kan ke blog saya? Terima kasih.

parlapo: Horas ito Riyanthi, nggak masalah itoku. bahen ma ito. mauliate.

Beberapa etnomusikolog Universitas Sumatera Utara memprihatinkan ‘keberadaan’ musik etnik yang semakin tersisih oleh perubahan zaman. Tidak ingin meratapinya, mereka justru bergerak dengan pekerjaan besar: mengupayakan pelestarian. Dimulai dari sebuah desa kecil, Hutatinggi, Laguboti, Kabupaten Tobasa. Irwansyah Harahap, salah seorang ‘pejuang‘ kesenian itu, melalui surat elektroniknya, membagi pengalaman dan pandangannya kepada Jurnal Nasional, seperti berikut: Lanjutkan…

Akhirnya…Terima Kasih…

Dalam waktu yang tidak begitu lama (kurang lebih dua minggu), akhirnya salah satu pekerjaan terselesaikan juga. Ini masih terkait dengan postinganku sebelumnya tentang pelestarian gondang Batak di Porsea dan Laguboti. Terima kasih untuk semua teman yang dengan ikhlas telah mau membantu kelancaran proses perekaman gondang Batak. Semoga Tuhan memberkati.

Terkhusus saya ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Pak Doly Hutapea

2. Bang Tohap Hutasoit

3. Kak Santi Sianturi

4. Ito Utjok Hotlas P. Sihombing

5. Bang/ Pak Marojahan M. T. Sigiro

6. Ria Angelina Pasaribu

7. Teman-teman Alumni Del Sumbagut

8. Teman-teman yang namanya tidak disebutkan di atas :)

Yang Tua Iya, Yang Muda Juga

Keinginan para pargonsi tua ini untuk merekam semua gondang yang mereka tahu untuk bekal bagi para pargonsi muda. Itu sudah kujanjikan kepada mereka bahwa ada kemungkinannya dibantu orang Batak yang peduli pelestarian gondang ini. Sudah hampir satu tahun janji itu tak bisa kutepati, akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan uang perlahan-lahan membeli alat rekam yang sederhana.

(Monang Naipospos)

Adalah satu kumpulan pargonsi yang berkeinginan untuk melestarikan gondang Batak. Dengan Monang Naipospos, mereka bekerjasama agar keinginan mulia ini bisa terwujud. Para pargonsi ini berada di Porsea, Laguboti dan daerah sekitarnya. Mereka berlatih gondang Batak, yang tua mentransfer ilmunya kepada generasi muda.

Kegiatan ini sudah berjalan selama satu tahun. Biasanya setiap bulan para pargonsi melakukan latihan gabungan untuk pematangan permainan sambil menggali materi gondang Batak yang sudah lama tidak lagi diperdengarkan. Ini terorganisir atas kesadaran para pargonsi muda yang masih jauh tertinggal dari pargonsi tua yang tidak banyak lagi hidup saat ini. Umumnya pargonsi muda saat ini kurang meningkatkan kualitas permainan dan ragam materi gondang karena umumnya masyarakat Batak tidak mengenali lagi kualitas permainan dan materi gondang yang dimintanya.

Pargonsi tua juga menyadari hal itu. Dengan sukarela mereka mau mentransfer pengetahuannya, sekalian mengulang kembali gondang Batak yang sudah jarang mereka mainkan.

Kegiatan ini “ditangkap” oleh Ritaony Hutajulu, seorang dosen etnomusikologi USU untuk sekaligus dilakukan pelatihan untuk murid baru. Pargonsi muda dan tua menjadi guru sebanyak 7 orang melatih 12 orang murid yang baru. Latihan gabungan para guru dan murid yang dilakukan setiap bulannya.

Sejalan dengan kegiatan latihan dan transfer ilmu tersebut, saat ini para pargonsi sudah mulai mewujudkan keinginan awal mereka, yaitu mendokumentasikan gondang Batak. Dengan menggunakan Alat rekam yang dibeli dengan uang yang dikumpulkan pargonsi (Sejenis Handy Recording Merek ZOOM seri H4 lisensi Jerman dibuat di China) dan BLT (Bantuan Langsung Transfer) dari Uda Petrus Marulak Sitohang, tahap pertama proses merekam sudah dilaksanakan. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari agar tidak mengganggu aktifitas para pargonsi dan pada waktu malam juga tidak terlalu banyak gangguan suara seperti burung, ternak ayam, anak-anak dan kendaraan yang lalu lalang.

Dalam rekaman pertama, para pargonsi sudah merekam 20 gondang yang sudah langka dan jarang diperdengarkan, antara lain Hata Sopisik (bukan gondang marhusip), Sapadang Nause, Sekkian Tali Mera, Sidabu Petek, Aling-aling, Alit-alit, Sapadang Nause, Rambu Pinungu, Lilit tu Meter, dan beberapa yang lain. Pokoknya unik dan bakalan bahan pembicaraan. Monang Naipospos juga sudah mencoba menuliskan pengertian masing-masing gondang ini. “Saya semakin mengerti, mereka menciptakan irama itu berdasarkan pengalaman hidup, penghormatan kepada pencipta, kecintaan kepada alam sekitar, kerukunan sesama manusia, ” demikian ujar Monang Pospos.

Setelah kegiatan perekaman ini, Monang Naipospos akan membuat tutorial memainkan alat musik Batak. Jadi orang yang mau belajar tidak harus keluar masuk kampung para pargonsi. Saat ini Monang Naipospos sudah menyusun sebagian modul untuk sarune. Tutorial ini rencananya akan diterjemahkan juga ke dalam bahasa Inggris.

Pada akhirnya nanti, kita generasi muda yang berkerinduan untuk mempelajari dan mengoleksi gondang Batak, sudah bisa mendapatkannya dari hasil kerja keras Monang Naipospos dan para pargonsi.

Mari dukung dan doakan program yang mulia ini agar berjalan dengan baik sampai prosesnya selesai. Dan semua orang bisa merasakan manfaatnya. Lestarikan gondang Batak.

Sumber:

http://tanobatak.wordpress.com dan percakapan lewat email dengan Tulang Naipospos

Si Horas Martandang

Petrus Marulak Sitohang (par Bintan)

Si Horas adalah pemuda yang sangat pemalu.Suatu hari dia mengajak sahabat dekatnya martandang ke rumah seorang gadis yang sedang disukainya. Lanjutkan…

Rura Silindung (Video)

Selamat menikmati…

Bermain Taganing

Pertama liat di blognya Uda Sitohang, kayaknya nggak salah juga kalau aku ikut post di sini :)

IDOLA CILIK RCTI: IFY BERMAIN TAGANING

Di Na Mamolus Sandok Ngolu On

BE. 716

Di na mamolus sandok ngoluon,

Gok do na marsak gale.

Boan sinondang tu na holom i,

Asa margogo muse.

Bahen ma ahu parhiteanMu,

PasupasuM mabaor ma i.

Ale Tuhanhu, patupa ma au,

Baen pasupasu tu dongan sude.

Sai baritahon Jesus na burju,

Tuk manesa dosa i.

Asa porsea di Jesus tutu,

Denggan pambaenmu disi.

Bahen ma ahu parhiteanMu,

PasupasuM mabaor ma i.

Ale Tuhanhu, patupa ma au,

Baen pasupasu tu dongan sude.

Ulan na denggan tu halak sude,

Songon binaenNa tu ho.

Ingot urupi luhut na gale,

Gabe parholong ma ho.

Bahen ma ahu parhiteanMu,

PasupasuM mabaor ma i.

Ale Tuhanhu, patupa ma au,

Baen pasupasu tu dongan sude.

Rura Silindung Part 4

Sebagai Penutup Perjalanan di Rura Silindung.

Tak banyak yang berubah dengan Tarutung, sejak aku lahir (hampir) 23 tahun yang lalu. Tapi aku tetap cinta, tetap bangga pada Tarutung, Rura Silindung.

Kalau ingin berkunjung ke sana, jangan lupa mengontakku, akan kubawa menelusuri semua tempat-tempat bersejarah, objek wisata dan tempat makan yang enak di sana.

Riyanthi

Rura Silindung Part 3

Huta Dame, Saitnihuta. Tempat bersejarah, tempatnya Ompu i DR. I. L. Nommensen.

Rura Silindung Part 2 Berlanjut

Sambungan Part 2, tadi ada foto yang ketinggalan :D