Keinginan para pargonsi tua ini untuk merekam semua gondang yang mereka tahu untuk bekal bagi para pargonsi muda. Itu sudah kujanjikan kepada mereka bahwa ada kemungkinannya dibantu orang Batak yang peduli pelestarian gondang ini. Sudah hampir satu tahun janji itu tak bisa kutepati, akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan uang perlahan-lahan membeli alat rekam yang sederhana.
(Monang Naipospos)
Adalah satu kumpulan pargonsi yang berkeinginan untuk melestarikan gondang Batak. Dengan Monang Naipospos, mereka bekerjasama agar keinginan mulia ini bisa terwujud. Para pargonsi ini berada di Porsea, Laguboti dan daerah sekitarnya. Mereka berlatih gondang Batak, yang tua mentransfer ilmunya kepada generasi muda.
Kegiatan ini sudah berjalan selama satu tahun. Biasanya setiap bulan para pargonsi melakukan latihan gabungan untuk pematangan permainan sambil menggali materi gondang Batak yang sudah lama tidak lagi diperdengarkan. Ini terorganisir atas kesadaran para pargonsi muda yang masih jauh tertinggal dari pargonsi tua yang tidak banyak lagi hidup saat ini. Umumnya pargonsi muda saat ini kurang meningkatkan kualitas permainan dan ragam materi gondang karena umumnya masyarakat Batak tidak mengenali lagi kualitas permainan dan materi gondang yang dimintanya.
Pargonsi tua juga menyadari hal itu. Dengan sukarela mereka mau mentransfer pengetahuannya, sekalian mengulang kembali gondang Batak yang sudah jarang mereka mainkan.
Kegiatan ini “ditangkap” oleh Ritaony Hutajulu, seorang dosen etnomusikologi USU untuk sekaligus dilakukan pelatihan untuk murid baru. Pargonsi muda dan tua menjadi guru sebanyak 7 orang melatih 12 orang murid yang baru. Latihan gabungan para guru dan murid yang dilakukan setiap bulannya.
Sejalan dengan kegiatan latihan dan transfer ilmu tersebut, saat ini para pargonsi sudah mulai mewujudkan keinginan awal mereka, yaitu mendokumentasikan gondang Batak. Dengan menggunakan Alat rekam yang dibeli dengan uang yang dikumpulkan pargonsi (Sejenis Handy Recording Merek ZOOM seri H4 lisensi Jerman dibuat di China) dan BLT (Bantuan Langsung Transfer) dari Uda Petrus Marulak Sitohang, tahap pertama proses merekam sudah dilaksanakan. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari agar tidak mengganggu aktifitas para pargonsi dan pada waktu malam juga tidak terlalu banyak gangguan suara seperti burung, ternak ayam, anak-anak dan kendaraan yang lalu lalang.
Dalam rekaman pertama, para pargonsi sudah merekam 20 gondang yang sudah langka dan jarang diperdengarkan, antara lain Hata Sopisik (bukan gondang marhusip), Sapadang Nause, Sekkian Tali Mera, Sidabu Petek, Aling-aling, Alit-alit, Sapadang Nause, Rambu Pinungu, Lilit tu Meter, dan beberapa yang lain. Pokoknya unik dan bakalan bahan pembicaraan. Monang Naipospos juga sudah mencoba menuliskan pengertian masing-masing gondang ini. “Saya semakin mengerti, mereka menciptakan irama itu berdasarkan pengalaman hidup, penghormatan kepada pencipta, kecintaan kepada alam sekitar, kerukunan sesama manusia, ” demikian ujar Monang Pospos.
Setelah kegiatan perekaman ini, Monang Naipospos akan membuat tutorial memainkan alat musik Batak. Jadi orang yang mau belajar tidak harus keluar masuk kampung para pargonsi. Saat ini Monang Naipospos sudah menyusun sebagian modul untuk sarune. Tutorial ini rencananya akan diterjemahkan juga ke dalam bahasa Inggris.
Pada akhirnya nanti, kita generasi muda yang berkerinduan untuk mempelajari dan mengoleksi gondang Batak, sudah bisa mendapatkannya dari hasil kerja keras Monang Naipospos dan para pargonsi.
Mari dukung dan doakan program yang mulia ini agar berjalan dengan baik sampai prosesnya selesai. Dan semua orang bisa merasakan manfaatnya. Lestarikan gondang Batak.
Sumber:
http://tanobatak.wordpress.com dan percakapan lewat email dengan Tulang Naipospos



