Kasihan Kali Cowok Itu

Aku kenal cowok, ih ngeri kali lah, dia disakitin sama ceweknya. Hm…semoga dia nggak ngikuti jejak si Gaby ya, yang katanya gantung diri, hiiiiiiiiiiiiiiiiiii…ngeri…

Inilah cerita yang dituliskan cowok itu, tentang pengalaman pahit dengan ceweknya. Lanjutkan…

Dari Sekolah Gondang Laguboti

Diposting atas izin dari: http://www.batakmusic.com

Horas,
Apakah tulisan di atas bisa saya copy-kan ke blog saya? Terima kasih.

parlapo: Horas ito Riyanthi, nggak masalah itoku. bahen ma ito. mauliate.

Beberapa etnomusikolog Universitas Sumatera Utara memprihatinkan ‘keberadaan’ musik etnik yang semakin tersisih oleh perubahan zaman. Tidak ingin meratapinya, mereka justru bergerak dengan pekerjaan besar: mengupayakan pelestarian. Dimulai dari sebuah desa kecil, Hutatinggi, Laguboti, Kabupaten Tobasa. Irwansyah Harahap, salah seorang ‘pejuang‘ kesenian itu, melalui surat elektroniknya, membagi pengalaman dan pandangannya kepada Jurnal Nasional, seperti berikut: Lanjutkan…

Akhirnya…Terima Kasih…

Dalam waktu yang tidak begitu lama (kurang lebih dua minggu), akhirnya salah satu pekerjaan terselesaikan juga. Ini masih terkait dengan postinganku sebelumnya tentang pelestarian gondang Batak di Porsea dan Laguboti. Terima kasih untuk semua teman yang dengan ikhlas telah mau membantu kelancaran proses perekaman gondang Batak. Semoga Tuhan memberkati.

Terkhusus saya ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Pak Doly Hutapea

2. Bang Tohap Hutasoit

3. Kak Santi Sianturi

4. Ito Utjok Hotlas P. Sihombing

5. Bang/ Pak Marojahan M. T. Sigiro

6. Ria Angelina Pasaribu

7. Teman-teman Alumni Del Sumbagut

8. Teman-teman yang namanya tidak disebutkan di atas :)

Yang Tua Iya, Yang Muda Juga

Keinginan para pargonsi tua ini untuk merekam semua gondang yang mereka tahu untuk bekal bagi para pargonsi muda. Itu sudah kujanjikan kepada mereka bahwa ada kemungkinannya dibantu orang Batak yang peduli pelestarian gondang ini. Sudah hampir satu tahun janji itu tak bisa kutepati, akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan uang perlahan-lahan membeli alat rekam yang sederhana.

(Monang Naipospos)

Adalah satu kumpulan pargonsi yang berkeinginan untuk melestarikan gondang Batak. Dengan Monang Naipospos, mereka bekerjasama agar keinginan mulia ini bisa terwujud. Para pargonsi ini berada di Porsea, Laguboti dan daerah sekitarnya. Mereka berlatih gondang Batak, yang tua mentransfer ilmunya kepada generasi muda.

Kegiatan ini sudah berjalan selama satu tahun. Biasanya setiap bulan para pargonsi melakukan latihan gabungan untuk pematangan permainan sambil menggali materi gondang Batak yang sudah lama tidak lagi diperdengarkan. Ini terorganisir atas kesadaran para pargonsi muda yang masih jauh tertinggal dari pargonsi tua yang tidak banyak lagi hidup saat ini. Umumnya pargonsi muda saat ini kurang meningkatkan kualitas permainan dan ragam materi gondang karena umumnya masyarakat Batak tidak mengenali lagi kualitas permainan dan materi gondang yang dimintanya.

Pargonsi tua juga menyadari hal itu. Dengan sukarela mereka mau mentransfer pengetahuannya, sekalian mengulang kembali gondang Batak yang sudah jarang mereka mainkan.

Kegiatan ini “ditangkap” oleh Ritaony Hutajulu, seorang dosen etnomusikologi USU untuk sekaligus dilakukan pelatihan untuk murid baru. Pargonsi muda dan tua menjadi guru sebanyak 7 orang melatih 12 orang murid yang baru. Latihan gabungan para guru dan murid yang dilakukan setiap bulannya.

Sejalan dengan kegiatan latihan dan transfer ilmu tersebut, saat ini para pargonsi sudah mulai mewujudkan keinginan awal mereka, yaitu mendokumentasikan gondang Batak. Dengan menggunakan Alat rekam yang dibeli dengan uang yang dikumpulkan pargonsi (Sejenis Handy Recording Merek ZOOM seri H4 lisensi Jerman dibuat di China) dan BLT (Bantuan Langsung Transfer) dari Uda Petrus Marulak Sitohang, tahap pertama proses merekam sudah dilaksanakan. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari agar tidak mengganggu aktifitas para pargonsi dan pada waktu malam juga tidak terlalu banyak gangguan suara seperti burung, ternak ayam, anak-anak dan kendaraan yang lalu lalang.

Dalam rekaman pertama, para pargonsi sudah merekam 20 gondang yang sudah langka dan jarang diperdengarkan, antara lain Hata Sopisik (bukan gondang marhusip), Sapadang Nause, Sekkian Tali Mera, Sidabu Petek, Aling-aling, Alit-alit, Sapadang Nause, Rambu Pinungu, Lilit tu Meter, dan beberapa yang lain. Pokoknya unik dan bakalan bahan pembicaraan. Monang Naipospos juga sudah mencoba menuliskan pengertian masing-masing gondang ini. “Saya semakin mengerti, mereka menciptakan irama itu berdasarkan pengalaman hidup, penghormatan kepada pencipta, kecintaan kepada alam sekitar, kerukunan sesama manusia, ” demikian ujar Monang Pospos.

Setelah kegiatan perekaman ini, Monang Naipospos akan membuat tutorial memainkan alat musik Batak. Jadi orang yang mau belajar tidak harus keluar masuk kampung para pargonsi. Saat ini Monang Naipospos sudah menyusun sebagian modul untuk sarune. Tutorial ini rencananya akan diterjemahkan juga ke dalam bahasa Inggris.

Pada akhirnya nanti, kita generasi muda yang berkerinduan untuk mempelajari dan mengoleksi gondang Batak, sudah bisa mendapatkannya dari hasil kerja keras Monang Naipospos dan para pargonsi.

Mari dukung dan doakan program yang mulia ini agar berjalan dengan baik sampai prosesnya selesai. Dan semua orang bisa merasakan manfaatnya. Lestarikan gondang Batak.

Sumber:

http://tanobatak.wordpress.com dan percakapan lewat email dengan Tulang Naipospos

The Music of the Night

Lagu yang sedang kudengarkan sepanjang hari ini :D

The Music of the Night

Nighttime sharpens, heightens each sensation
Darkness stirs and wakes imagination
Silently the senses abandon their defences

Slowly, gently night unfurls its splendor
Grasp it, sense it, tremulous and tender
Turn your face away from the garish light of day
Turn your thoughts away from cold, unfeeling light
And listen to the music of the night

Let your mind start a journey through a strange new world
Leave all thoughts of the world you knew before
Let your soul take you where you long to be
Only then can you belong to me

Floating, falling, sweet intoxication
Touch me, trust me, savor each sensation
Let the dream begin, let your darkest side give in
To the power of the music that I write
The power of the music of the night, of the night

You alone can make my song take flight
Help me make the music of the night

Di Na Mamolus Sandok Ngolu On

BE. 716

Di na mamolus sandok ngoluon,

Gok do na marsak gale.

Boan sinondang tu na holom i,

Asa margogo muse.

Bahen ma ahu parhiteanMu,

PasupasuM mabaor ma i.

Ale Tuhanhu, patupa ma au,

Baen pasupasu tu dongan sude.

Sai baritahon Jesus na burju,

Tuk manesa dosa i.

Asa porsea di Jesus tutu,

Denggan pambaenmu disi.

Bahen ma ahu parhiteanMu,

PasupasuM mabaor ma i.

Ale Tuhanhu, patupa ma au,

Baen pasupasu tu dongan sude.

Ulan na denggan tu halak sude,

Songon binaenNa tu ho.

Ingot urupi luhut na gale,

Gabe parholong ma ho.

Bahen ma ahu parhiteanMu,

PasupasuM mabaor ma i.

Ale Tuhanhu, patupa ma au,

Baen pasupasu tu dongan sude.

Music Box Dancer

Song by Frank Mills: Music Box Dancer; Lyric by Norman Pollack, 03-17-81

sumber: di sini

You walk in the room and you’re wearing a frown,
You reach for the shelf and cradle it down
The Music Box Dancer, what does it prove?
Only that you need to see a statue that moves.
A tutu of satin, bordered with lace,
Slender lines, agile legs, a wonderland face.
Her beauty is balanced, an immovable pose,
Eternally destined to remain on her toes.

Music Box Dancer, she is only a toy,
Project upon her your dreams of wanting life’s joy;
She’s perched on her stand, and never will part,
A final gaze upon her, now the music will start.

You wind the doll up, it’s nostalgic because
You’ve been here before, so give one final pause
To dream of the future, to reflect on the past,
Music Box Dancer start your whirling at last.

The room fills with music, such a cute song,
Watching her go ’round and ’round, she’s where she belongs;
Bring joy to the watchers, spreading a glow,
Whenever wound up, she’ll put on a good show.

Music Box Dancer, do you think or believe
She could step off her box if she wanted to leave?
So easy it is, twirl around with such grace,
Staying in her circle, she remains in one place.

Such a brief moment, a small time to spend,
The dancing will slow soon, the music will end;
In real life we’re plastic, nature’s unfair,
How can we breathe life, how can we share
The knowledge and insights hidden in tombs,
We’re all Music Box Dancers all alone in our rooms;
We sit on our shelves where objects reside,
We don’t allow the music to get right inside.

Music Box Dancer’s now completely alone,
No winder or no listener, because nobody’s home;
How long before someone will re-wind the spring?
The room will now be witness; and silence can’t sing.

Hidup Ini Memang Penuh Gelombang Itoku

Ini beberapa kesaksian yang indah tentang lagu itu. Saya bahagia kalau hatimu juga tersentuh oleh lagu ini dan imanmu dikuatkan.

Hidup ini memang penuh gelombang itoku. Kalaupun sekarang belum datang kepadamu, siapkan dirimu dengan tetap percaya bahwa Dia selalu menyertaimu, apapun yang terjadi dan kapanpun.

Sunggu suatu kejutan, bahwa cerita tentang lagu Nang Gumalunsang masih terus berlanjut. Lanjutkan…

Poti Marende ft. Senjata Perang

Di waktuku masih kecil, gembira dan senang

Tiada duka kukenang, tak kunjung mengerang

Di sore hari nan sepi, ibuku bertelut

Sujud berdoa kudengar, namaku disebut

Di doa ibuku, namaku disebut

Di doa ibu kudengar, ada namaku disebut

…..

[Sayup-sayup terdengar, suara Nikita & Herlin Pirena yang merdu, melantunkan lagu” Di Doa Ibuku Namaku Disebut”. Hi..hi..hi..Kayak pementasan drama...]

Kita mulai ceritanya…

Saat saya sedang membereskan buku-buku yang berserakan di lemari, saya menemukan beberapa buku yang kurang lebih setahun ini, hampir tidak pernah saya sentuh. Buku-buku itu adalah buku yang jadi senjata perang saya saat mar-poti marende [Oh Riyanthi...kau sudah menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar :D ].

Poti marende???

Poti = peti

Marende = bernyanyi

Poti marende = peti bernyanyi

Par-poti marende = pemain peti bernyanyi

Mar-poti marende = bermain/ memainkan peti bernyayi

Kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, kok terasa lucu ya???

Poti marende adalah nama alat musik. Sepengetahuanku, poti marende itu ya mirip-mirip electone, tapi di bagian bawahnya ada dua pegas yang harus diinjak (atau dipijak? atau diengkol? ha..ha..) oleh kaki kiri dan kanan, agar mengeluarkan suara. Sementara, organ atau electone yang zaman sekarang kan, di bagian bawahnya hanya ada pengontrol volume di sebelah kanan, untuk digunakan kaki kanan dan pedal di bagian kiri, yang digunakan oleh kaki kiri (Nggak kebayang kalau kaki kiri yang di kontrol volume dan kaki kanan di pedal, hi..hi..hi..). Aku kurang tahu apakah organ atau electone adalah kategori dari poti marende ini atau bukan. Marilah kita cari tahu bersama ;) .

Nah, kalau par-poti marende itu sebutan buat orang yang mar-poti marende, he..he..he.. (Riyanthi, jangan mutar-mutar bahasamu!!!). Tapi jarang sih orang jaman sekarang nyebut poti marende, biasanya disebutkan organ atau electone saja, sehingga menjadi “Organ itu sedang dipakai berlatih oleh par-organ, karna dia akan mar-organ di kebaktian minggu ini.” :D

Baiklah, kita kembali ke buku.

Ada 6 buku yang jadi senjata perangku:

1. Almanak

Sebelum mar-poti marende kan biasanya ada persiapan dulu, setidaknya satu kali, harus berlatih memainkan lagu-lagu yang akan dibawakan. Dan pastinya berlatih tidak pada detik-detik terakhir kebaktian dimulai, pasti sehari atau beberapa hari sebelumnya. Pada saat itu tentu belum ada tertib acara kebaktian, sehingga Almanak-lah yang dibuka, karna di dalamnya ada list lagu-lagu dalam setiap kebaktian Minggu, lengkap dalam setahun. Jadi, kalau sekarang masih bulan April dan pengen mempelajari lagu untuk Kebaktian Natal tanggal 25 Desember, Silahkan…!!!

2. Kidung Jemaat Not Gantung

Not gantung? Sering juga disebut not balok. Kidung Jemaat yang satu berbeda dengan yang biasa digunakan oleh jemaat. Karna di dalamnya hanya ada nada-nada yang terdiri dari 4 suara: Sopran, Alto, Tenor dan Bass, tanpa lirik. Bisa kacau kan kalau jemaat yang seharusnya menyanyikan “Bila kulihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh kudengar…” menjadi “5 5 5 | 3 . 5 5 5 6 6| dst…” Buku ini lah yang biasanya digunakan oleh par-poti marende. Walau pun kalau dilihat sekilas kayaknya ribet, tapi suara poti marende yang dihasilkan pasti lebih bagus, daripada menggunakan Kidung Jemaat yang biasa, yang hanya terdiri dari suara Sopran. Eh, tapi sekarang sudah ada Kidung Jemaat dengan 4 suara dalam not angka.

3. Kidung Jemaat

Kalau yang ini adalah Kidung Jemaat yang lazim digunakan jemaat, yang ada liriknya itu loh.

4. Buku Logu HKBP

Buku ini isinya not yang bergantungan juga, he..he..he.. Tapi isinya adalah lagu-lagu dari Buku Ende. Digunakannya pada saat kebaktian berbahasa Batak.

5. Buku Ende

Sama seperti Kidung Jemaat, kalau Buku Ende itu adalah buku nyanyian yang ada liriknya. Inilah buku yang digunakan jemaat saat bernyanyi di kebaktian berbahasa Batak.

6. Buku Logu Suplemen (Sangap di Jahowa)

Pertama kali diperkenalkan pada Rapat Pendeta HKBP tanggal 08 September 2003 dan diterbitkan pada September 2004. Buku seperti namanya “Suplemen” adalah tambahan dari Buku Ende. Buku ini sudah digunakan di gereja-gereja HKBP.

Oh iya, ada satu buku lagi yang tak bisa dilupakan:

ALKITAB.

Sekarang, buku-buku ini harus dioptimalkan lagi penggunaannya. Jangan hanya sebagai hiasan yang bikin semak lemari aja, he..he..he..

Ada yang tertarik, pengen mar-poti marende???

Horas..horas..beta mar-poti…

Posted in Music. 19 Comments »