Di waktuku masih kecil, gembira dan senang
Tiada duka kukenang, tak kunjung mengerang
Di sore hari nan sepi, ibuku bertelut
Sujud berdoa kudengar, namaku disebut
Di doa ibuku, namaku disebut
Di doa ibu kudengar, ada namaku disebut
…..
[Sayup-sayup terdengar, suara Nikita & Herlin Pirena yang merdu, melantunkan lagu” Di Doa Ibuku Namaku Disebut”. Hi..hi..hi..Kayak pementasan drama...]
Kita mulai ceritanya…
Saat saya sedang membereskan buku-buku yang berserakan di lemari, saya menemukan beberapa buku yang kurang lebih setahun ini, hampir tidak pernah saya sentuh. Buku-buku itu adalah buku yang jadi senjata perang saya saat mar-poti marende [Oh Riyanthi...kau sudah menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
].
Poti marende???
Poti = peti
Marende = bernyanyi
Poti marende = peti bernyanyi
Par-poti marende = pemain peti bernyanyi
Mar-poti marende = bermain/ memainkan peti bernyayi
Kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, kok terasa lucu ya???
Poti marende adalah nama alat musik. Sepengetahuanku, poti marende itu ya mirip-mirip electone, tapi di bagian bawahnya ada dua pegas yang harus diinjak (atau dipijak? atau diengkol? ha..ha..) oleh kaki kiri dan kanan, agar mengeluarkan suara. Sementara, organ atau electone yang zaman sekarang kan, di bagian bawahnya hanya ada pengontrol volume di sebelah kanan, untuk digunakan kaki kanan dan pedal di bagian kiri, yang digunakan oleh kaki kiri (Nggak kebayang kalau kaki kiri yang di kontrol volume dan kaki kanan di pedal, hi..hi..hi..). Aku kurang tahu apakah organ atau electone adalah kategori dari poti marende ini atau bukan. Marilah kita cari tahu bersama
.
Nah, kalau par-poti marende itu sebutan buat orang yang mar-poti marende, he..he..he.. (Riyanthi, jangan mutar-mutar bahasamu!!!). Tapi jarang sih orang jaman sekarang nyebut poti marende, biasanya disebutkan organ atau electone saja, sehingga menjadi “Organ itu sedang dipakai berlatih oleh par-organ, karna dia akan mar-organ di kebaktian minggu ini.”
Baiklah, kita kembali ke buku.
Ada 6 buku yang jadi senjata perangku:
1. Almanak
Sebelum mar-poti marende kan biasanya ada persiapan dulu, setidaknya satu kali, harus berlatih memainkan lagu-lagu yang akan dibawakan. Dan pastinya berlatih tidak pada detik-detik terakhir kebaktian dimulai, pasti sehari atau beberapa hari sebelumnya. Pada saat itu tentu belum ada tertib acara kebaktian, sehingga Almanak-lah yang dibuka, karna di dalamnya ada list lagu-lagu dalam setiap kebaktian Minggu, lengkap dalam setahun. Jadi, kalau sekarang masih bulan April dan pengen mempelajari lagu untuk Kebaktian Natal tanggal 25 Desember, Silahkan…!!!
2. Kidung Jemaat Not Gantung
Not gantung? Sering juga disebut not balok. Kidung Jemaat yang satu berbeda dengan yang biasa digunakan oleh jemaat. Karna di dalamnya hanya ada nada-nada yang terdiri dari 4 suara: Sopran, Alto, Tenor dan Bass, tanpa lirik. Bisa kacau kan kalau jemaat yang seharusnya menyanyikan “Bila kulihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh kudengar…” menjadi “5 5 5 | 3 . 5 5 5 6 6| dst…” Buku ini lah yang biasanya digunakan oleh par-poti marende. Walau pun kalau dilihat sekilas kayaknya ribet, tapi suara poti marende yang dihasilkan pasti lebih bagus, daripada menggunakan Kidung Jemaat yang biasa, yang hanya terdiri dari suara Sopran. Eh, tapi sekarang sudah ada Kidung Jemaat dengan 4 suara dalam not angka.
3. Kidung Jemaat
Kalau yang ini adalah Kidung Jemaat yang lazim digunakan jemaat, yang ada liriknya itu loh.
4. Buku Logu HKBP
Buku ini isinya not yang bergantungan juga, he..he..he.. Tapi isinya adalah lagu-lagu dari Buku Ende. Digunakannya pada saat kebaktian berbahasa Batak.
5. Buku Ende
Sama seperti Kidung Jemaat, kalau Buku Ende itu adalah buku nyanyian yang ada liriknya. Inilah buku yang digunakan jemaat saat bernyanyi di kebaktian berbahasa Batak.
6. Buku Logu Suplemen (Sangap di Jahowa)
Pertama kali diperkenalkan pada Rapat Pendeta HKBP tanggal 08 September 2003 dan diterbitkan pada September 2004. Buku seperti namanya “Suplemen” adalah tambahan dari Buku Ende. Buku ini sudah digunakan di gereja-gereja HKBP.
Oh iya, ada satu buku lagi yang tak bisa dilupakan:
ALKITAB.
Sekarang, buku-buku ini harus dioptimalkan lagi penggunaannya. Jangan hanya sebagai hiasan yang bikin semak lemari aja, he..he..he..
Ada yang tertarik, pengen mar-poti marende???
Horas..horas..beta mar-poti…