Laut Sibolga, dermaga, Pantai Pandan
Di perjalanan dari Sibolga menuju Tarutung.
Tanggal 10 Agustus kemarin, si Tante Ino ulang tahun. Berhubung tinggalnya jauh, aku kasih kado foto-foto dari Sibolga aja ya Tan. Happy Birthday Tante.
Di tempat inilah banyak kenangan dengan teman-teman, termasuk si Gloria (dari tadi nama si Gloria ini aja disebut-sebut, hehehe…)
Berada di ketinggian, di gunung lah pokoknya
Dulu disebutnya SMU N 1 Tarutung, lokasinya dekat Taman Makam Pahlawan. Dekat pula dengan kolam renang (ah, sebenarnya tak pantas disebut kolam renang) yang sampai sekarang aku tak tau bagaimana pengucapan dan penulisan yang benar
Orang-orang menyebutnya Sembat. Ada yang tau cara penulisan dan pengucapan yang benar? Lanjutkan…
Inilah jalan yang harus ditempuh setiap hari. Gimana betis nggak kayak betis pemain bola?
Tapi ini lah yang disebut dengan “apapun akan kutempuh demi mengejar ilmu”
Lanjutkan…
TK Kemala Bhayangkari namanya. Masih teringat dengan Alm. Ibu Sinaga, Kepala Sekolah kami dulu di TK ini. Juga dengan Ibu Hutagalung dan Ibu/ Bapak yang lain. Lanjutkan…
Gambar-gambar kota Tarutung saat ini. Ayo teman-teman, ceritakan pengalamannya dengan gambar-gambar di bawah ini
Sttt…bang Tupa nangis-nangis karna namanya tak dicantumkan. Jadi aku buatkanlah namanya di postingan ini
Gambar lain menyusul ya bang
Lanjutkan…
Gambar kota Tarutung diambil dari Tangsi (depan Kantor Polisi). Lanjutkan…
Mengapa namaku yang di judulnya? Hehehehe…karna memang aku pengen liat lokasi kebakaran yang terjadi di Tarutung minggu yang lalu. Pas ke sana, puing-puing sisa kebakarannya sudah dibersihkan. Ini aku share gambarnya, mana tau ada juga yang pengen liat. Selamat menikmati. Lanjutkan…
Si Gloria ini minta foto rumahnya yang dulu. Maaf Gig, aku tak sanggup lagi mendaki ke rumahmu, naik tangga-tangga dekat gereja HKBP itu,hhehehe…Jadi aku ambil gambar Gereja HKBP Kota aja ya
Eh, kalau gambar yang dekat kamar jenazah itu, dulu aku sama kakak-kakak sepupuku sering main-main di situ, manjat-manjat dekat gereja itu. Nah, kalau tangga yang mau ke rumahmu itu, dulu kami sering nangkap ikan di situ, hehehe… Lanjutkan…
Tulang Tappang kangen katanya dengan Toko Zaman. Ini fotonya tulang, toko itu masih ada
Nah, kalau di foto yang satunya lagi, rumah tulang yang mana dulu?
Lanjutkan…
Kata Kak Lasma, tak cukup hanya arsik dan kue talam yang diceritakan. Ini dia tempat minum bandrek yang enak itu (tapi warungnya belum buka, hehehe…). Dan satu lagi yang tak terlupakan, mie gorengnya Harmonis. Lanjutkan…
Kemarin sempat ngobrol dengan Ito Eddy a.k.a Robert Devan
sebelum berangkat ke Tarutung. Ada permintaan darinya minta diambilkan gambar Gereja HKI Siualuompu.
Baiklah ito, ini gambarnya, dan beberapa gambar Desa Siualuompu yang lain. Selamat Menikmati
Lanjutkan…
Keinginan para pargonsi tua ini untuk merekam semua gondang yang mereka tahu untuk bekal bagi para pargonsi muda. Itu sudah kujanjikan kepada mereka bahwa ada kemungkinannya dibantu orang Batak yang peduli pelestarian gondang ini. Sudah hampir satu tahun janji itu tak bisa kutepati, akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan uang perlahan-lahan membeli alat rekam yang sederhana.
(Monang Naipospos)
Adalah satu kumpulan pargonsi yang berkeinginan untuk melestarikan gondang Batak. Dengan Monang Naipospos, mereka bekerjasama agar keinginan mulia ini bisa terwujud. Para pargonsi ini berada di Porsea, Laguboti dan daerah sekitarnya. Mereka berlatih gondang Batak, yang tua mentransfer ilmunya kepada generasi muda.
Kegiatan ini sudah berjalan selama satu tahun. Biasanya setiap bulan para pargonsi melakukan latihan gabungan untuk pematangan permainan sambil menggali materi gondang Batak yang sudah lama tidak lagi diperdengarkan. Ini terorganisir atas kesadaran para pargonsi muda yang masih jauh tertinggal dari pargonsi tua yang tidak banyak lagi hidup saat ini. Umumnya pargonsi muda saat ini kurang meningkatkan kualitas permainan dan ragam materi gondang karena umumnya masyarakat Batak tidak mengenali lagi kualitas permainan dan materi gondang yang dimintanya.
Pargonsi tua juga menyadari hal itu. Dengan sukarela mereka mau mentransfer pengetahuannya, sekalian mengulang kembali gondang Batak yang sudah jarang mereka mainkan.
Kegiatan ini “ditangkap” oleh Ritaony Hutajulu, seorang dosen etnomusikologi USU untuk sekaligus dilakukan pelatihan untuk murid baru. Pargonsi muda dan tua menjadi guru sebanyak 7 orang melatih 12 orang murid yang baru. Latihan gabungan para guru dan murid yang dilakukan setiap bulannya.
Sejalan dengan kegiatan latihan dan transfer ilmu tersebut, saat ini para pargonsi sudah mulai mewujudkan keinginan awal mereka, yaitu mendokumentasikan gondang Batak. Dengan menggunakan Alat rekam yang dibeli dengan uang yang dikumpulkan pargonsi (Sejenis Handy Recording Merek ZOOM seri H4 lisensi Jerman dibuat di China) dan BLT (Bantuan Langsung Transfer) dari Uda Petrus Marulak Sitohang, tahap pertama proses merekam sudah dilaksanakan. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari agar tidak mengganggu aktifitas para pargonsi dan pada waktu malam juga tidak terlalu banyak gangguan suara seperti burung, ternak ayam, anak-anak dan kendaraan yang lalu lalang.
Dalam rekaman pertama, para pargonsi sudah merekam 20 gondang yang sudah langka dan jarang diperdengarkan, antara lain Hata Sopisik (bukan gondang marhusip), Sapadang Nause, Sekkian Tali Mera, Sidabu Petek, Aling-aling, Alit-alit, Sapadang Nause, Rambu Pinungu, Lilit tu Meter, dan beberapa yang lain. Pokoknya unik dan bakalan bahan pembicaraan. Monang Naipospos juga sudah mencoba menuliskan pengertian masing-masing gondang ini. “Saya semakin mengerti, mereka menciptakan irama itu berdasarkan pengalaman hidup, penghormatan kepada pencipta, kecintaan kepada alam sekitar, kerukunan sesama manusia, ” demikian ujar Monang Pospos.
Setelah kegiatan perekaman ini, Monang Naipospos akan membuat tutorial memainkan alat musik Batak. Jadi orang yang mau belajar tidak harus keluar masuk kampung para pargonsi. Saat ini Monang Naipospos sudah menyusun sebagian modul untuk sarune. Tutorial ini rencananya akan diterjemahkan juga ke dalam bahasa Inggris.
Pada akhirnya nanti, kita generasi muda yang berkerinduan untuk mempelajari dan mengoleksi gondang Batak, sudah bisa mendapatkannya dari hasil kerja keras Monang Naipospos dan para pargonsi.
Mari dukung dan doakan program yang mulia ini agar berjalan dengan baik sampai prosesnya selesai. Dan semua orang bisa merasakan manfaatnya. Lestarikan gondang Batak.
Sumber:
http://tanobatak.wordpress.com dan percakapan lewat email dengan Tulang Naipospos
Sebagai Penutup Perjalanan di Rura Silindung.
Tak banyak yang berubah dengan Tarutung, sejak aku lahir (hampir) 23 tahun yang lalu. Tapi aku tetap cinta, tetap bangga pada Tarutung, Rura Silindung.
Kalau ingin berkunjung ke sana, jangan lupa mengontakku, akan kubawa menelusuri semua tempat-tempat bersejarah, objek wisata dan tempat makan yang enak di sana.
Riyanthi