KONFERENSI INTERNASIONAL DANAU TOBA, SEBUAH HARAPAN

Oleh Petrus Sitohang

Saya memulai aktifitas blogging sejak awal tahun 2007. Sejak saat itu saya berjumpa dengan banyak teman-teman yang dengan mereka saya menemukan banyak kesamaan (share common things). Perkenalan dengan mereka, walau masih sebatas di dunia maya bagi saya sangat berarti.

Lewat blogging saya antara lain mengenal Monang Naipospos, Jarar Siahaan, Suhunan Situmorang, Miduk Hutabarat, Viky Sianipar, Riyanthi Sianturi, Toga Nainggolan, Robert Manurung, Charlie Sianipar, Merdi Sihombing dan akhir-akhir ini berdiskusi cukup intens dengan Efendy Naibaho. Anehnya hingga saat ini saya belum pernah bertemu muka sekalipun dengan mereka.

Dari komunikasi saya dengan blogger-blogger Batak di atas saya menemukan kesamaan kepedulian dengan mereka terutama tentang budaya Batak dan Danau Toba. Yang membuat saya merasa berbeda dengan mereka ialah mereka mereka itu dengan satu dan lain cara telah berbuat banyak untuk mencoba mengangkat nasib lingkungan dan pariwisata Danau Toba ke permukaan dengan kerja-kerja nyata.

Monang Naipospos antara lain telah berhasil mengkompilasi gondang batak yang asli di Laguboti. Dia juga telah berhasil menciptakan blog tentang kebudayaan Batak yang menurut saya hingga saat ini merupakan terbanyak pengunjung setianya. Tulisan-tulisannya tentang kebudayaan Batak sangat banyak, dan beberapa ditulis dengan bahasa satera Batak yang sangat indah.

Suhunan Situmorang tampil dengan cerita-cerita pendek bertema Batak yang sangat fantastis. Melalui trilogi cerpen-cerpennya seperti “Keputusan Merlin”, “Upacara Saurmatua Permintaan Marojahan” dan “Cucu Panggoaran” Suhunan bukan saja mampu membuat cerita yang sangat indah dan menguras emosi tetapi juga menelanjangi perilaku masyarakat batak saat ini. Tetapi pada kesempatan lain melalui cerpen “Whitney dan Sebuah Imajinasi ” Suhunan mampu membuat pembacanya terpingkal-pingkal sendirian karena kelucuan lamunannya yang sangat liar itu. Tak dapat disangkal Suhunan Situmorang saat ini adalah cerpenis bertema Batak yang sangat populer dan sangat produktif selain Ari M.P. Tamba yang sudah lebih dulu banyak menulis cerpen cerpen berlatar belakang kehidupan masyarakat Batak.

Sementara itu Charlie Sianipar tampil dengan karya-karya fotonya tentang Danau Toba yang mampu membuat Danau Toba kelihatan jauh lebih indah. Penyanyi batak aliran kreatif Viky Sianipar yang telah memelopori kegiatan konservasi lingkungan Samosir melalui proyek Toba Dream Conservation Project. Ada Merdi Sihombing desainar ulos Batak yang saya kagumi. Merdi sudah berhasil mengangkat seni tenun ulos ke pentas nasional bahkan internasional. Sementara itu Miduk Hutabarat dan Earth Societynya berhasil merancang menciptakan eco tour yang diberi label Tour d Toba yang menurut saya sangat kreatif itu. Tour d Toba adalah kombinasi Tour Package berbasis lingkungan dengan budaya dan masyarakat (eco tour) dengan gerakan peduli lingkungan, sebuah upaya terobosan untuk menghidupkan kembali pariwisata Danau Toba yang patut dipuji. Jarar Siahaan, Robert Manurung dan Toga Nainggolan adalah jurnalis-jurnalis muda Batak yang sangat idealis yang sudah sangat jarang ditemukan dewasa ini. Dan tidak ketinggalan Riyanthi Sianturi, anak boru dari Tarutung yang terus berusaha mempromosikan kebudayaan Batak termasuk gondak lewat blognya dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Aktivis Danau Toba: Quo Vadis?

Lalu apa kaitan semua karya teman-teman bloggerku itu dengan ide mengadakan Knferensi Internasional Danau Toba yang digagas oleh Forum Peduli Danau Toba sebuah grup di jaringan Facebook yang dibidani Effendy Naibaho itu?

Sebuah konferensi layaknya adalah pertemuan untuk menjadi show case atau pajangan atas pencapaian-pencapaian yang tinggi dalam sebuah komunitas. Melalui Konferensi Internasional Danau Toba saya berharap semua karya-karya berkualitas dari teman-teman blogger saya tadi seharusnya ditampilkan apakah dalam bentuk presentasi, pameran, pertunjukan kesenian, penerbitan cerpen-cerpen dan tulisan bertema Batak dan tentu saja menikmati keindahan Danau Toba dan lingkungan sekitarnya dengan mengunjungi objek-objek wisata unggulan Danuu Toba yang selama ini telah banyak dilupakan.

Menurut saya karya-karya dan pencapaian mereka itu dan semua penggiat lingkungan dan kebudayaan Batak lainnya sangat perlu untuk mendapatkan pengakuan dalam sebuah forum yang layak seraya memberikan kesempatan kepada para penggiatnya untuk mendapatkan masukan dari para stakeholder Danau Toba bagi perbaikan karya mereka di masa yang akan datang.

Saya kira potensi teman-teman blogger dan penggiat budaya dan linigkungan Danau Toba yang saya sebutkan tadi sudah saatnya disinergykan satu dengan yang lain agar dapat menghasilkan output dan benefit yang bisa mempercepat upaya konservasi lingkungan danau Toba sekaligus revitalisasi pariwisata Danau Toba.

Konferensi Internasional Danau Toba juga diharapkan akan dapat membahas issue-issue berikut ini:

1. Permasalahan dan Konservasi Lingkungan Danau Toba;
2. Prospek Pembentukan Badan Otorita Kawasan Danau Toba;
3. Mencari Terobosan Revitalisasi Pariwisata Danau Toba, Belajar Dari Success story pariwisata Thailand, Singapura, Bali dan Bintan Resort.

Dari Konferensi ini diharapkan akan memberikan masukan bagi rencana aksi bersama untuk konservasi lingkungan dan revitalisasi pariwisata Danau Toba yang akan dilaksanakan para penggiat lingkungan dan pariwisata Danau Toba serta Pemerintah Daerah Sumatera Utara dan khususnya Kabupaten-kabupaten dan kota sekitar Danau Toba. Dengan dukungan kita semua saya yakin Konferensi akan menjadi kenyataan.

********

Catatan: Konsep Dasar Proposal Konferensi Internasional Danau Toba ini dapat dilihat di grup FORUM PEDULI DANAU TOBA di FACEBOOK.

7 thoughts on “KONFERENSI INTERNASIONAL DANAU TOBA, SEBUAH HARAPAN

  1. Saya sedari dulu sangat suka akan Danau Toba. Ada kebanggaan tersendiri, apabila menyaksikan langsung panorama indahnya alam Danau Toba dan sekitarnya dan saya sudah merasakan sendiri dari berbagai sudut tempat pariwisata sekitar Danau Toba : Paroppo, Silalahi, Muara, Parapat, Tuktuk dan banyak lagi lainnya. Sehingga…saya berusaha minimal sakali dalam 1 tahun saya dan keluarga harus datang ke danau Toba.
    Memang harus diakui, Danau Toba sekitarnya begitu-begitu saja sejak dulu, seakan-akan dibiarkan. Sangat disayangkan sekali mengingat potensi alam-nya yang begitu “mempesonakan”. Saya kira,…ini semua keteledoran Pemerintah Kabupaten dimana wilayahnya mencakup sebagian kawasan danau Toba : Kab. Simalungun, Kab Karo, Kabupaten Dairi, Kab. Toba Hasundutan, Kab.Samosir dan Kab. Tapanuli Utara terlebih secara khusus Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Pesta Danau Toba pun tidak menggigit dan begitu-begitu saja setiap tahun, sehingga kesannya habis begitu PDT ditutup.
    Saya menginginkan dan menyarankan kerjasama yang lebih luas dan spesifik serta terarah dari Pemerintah Kabupaten yang memiliki wilayah Danau Toba dengan semacam program yang mengikat dan global. Terlebih secara khusus dengan Pemprop Sumatera Utara untuk pengelolaan Danau Toba. Pariwisata Danau Toba tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di Thailand, Singapore, Bali maupun tempat pariwisata lainnya karena masing-masing memiliki ke khas-an dalam hal pengelolaannya dan ini yang paling berpengaruh adalah adat istiadat dan Budaya. Thailand dapat dikatakan maju pariwisata-nya karena semua orang tau disitu ada “pusat jajanan sex”, pariwisata Bali berhubungan dengan Agama yang dipeluk mayoritas penduduk disana, Singapore karena menjadi “surga belanja”. So…apa yang mau kita buat secara spesifik buat Pariwisata Danau Toba?
    Souvenir-nya pun mahal, karena kebanyakan bukan buatan penduduk setempat tetapi didatangkan dari Padang, Yogyakarta, Bandung maupun Bali. Hanya merek-nya saja yang “Lake Toba”. Harga jajanan dan makanan juga demikian. Belum lagi penyewaan tikar untuk duduk di pantai, penyewaan boat dan lainnya. Panggung hiburan rakyat tidak ada kalau tidak ada even khusus seperti PDT. Masyarakat-nya juga belum tentu ramah.
    Pada intinya banyak yang harus dibenahi dan semuanya menuntut kemauan dari semua elemen, terutama Pemerintah Kabupaten setempat sebagai penguasa Danau Toba.

    Terlebih dahulu harus ada kajian yang mendalam untuk pengembangannya karena revitalisasi pariwisata Danau Toba sudah sangat mendesak, dan Ide untuk Konferensi Internasional Danau Toba layak untuk dipikirkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s