Hari Ini, Setahun Yang Lalu

Yang Berulang Tahun

Sebenarnya, banyak yang ingin aku jelaskan malam ini. Namun, ternyata yang bersangkutan sudah sangat mengantuk. Wajar memang, pastinya yang bersangkutan ini sudah kelelahan seharian. dan kekenyangan juga🙂 Nah, daripada nanti aku berbicara panjang lebar, pulsa terkuras habis, padahal yang bersangkutan sudah tertidur pulas sambil memeluk handphone di seberang sana, rugi dong sayah, nggak rela…nggak rela…🙂 Jadi, aku memutuskan untuk bercerita di rumahku ini saja.

“ehem..ini hari ultahku lho..buzz..ding!”

(Sender: +6281***3**** Sent: 23-Nov-2010 13:13:42)

Saat menerima pesan singkat ini, aku tersenyum, tapi tak membalasnya. Mengapa tersenyum? Hmm…menyenangkan sekali mengetahui bahwa ucapan selamat dariku ternyata sangat ditunggu🙂 Lalu, mengapa tak membalasnya? Mau tau aja akhh…😀 Sebenarnya karena ingin memberi kejutan kepada si pengirim pesan singkat di atas😉

“dan air mataku berlinang. ohmigot, ini di kantor skrg. whua…i ‘ve got the present.. buku dosa sudah di tanganku. terlalu. hix… thx sis” (Sender: +6281***3**** Sent: 23-Nov-2010 13:22:21)

Tak lama berselang, aku mendapatkan pesan singkat lagi, dari orang yang sama. Hhhmmm…membaca kalimat pertamanya, pasti ini ajaran dari Tohap Marhasak Sripandi Hutasoit… Pesan singkat yang dipaksakan supaya terlihat puitis🙂 “dan air mataku berlinang…”, emang ibu pertiwi? he..he..he..he.. (masih ingat lagunya kan? yang begini: Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matamu berlinang… d.u.)😀 Cukup…cukup…jangan lari dari topik🙂

Tentang pesan singkat yang kedua ini, aku sangat senang, tak sia-sia kemarin sampai tidur jam 02.30 untuk mengemasnya, bangun pagi terburu-buru dan segera mengirimkannya melalui kurir. Yes, kirimanku sampai tepat waktu. Mengenai kado ulang tahun yang aku kirimkan, boleh dikatakan tak sesuai dengan yang dia minta. Karena yang sebenarnya dia inginkan di umurnya yang ke-24 ini adalah semua barang-barang yang ada kamarku, wahahahahaha…  Pastinya tak lucu kalau aku mengirimkan kasur, bantal, dispenser, koran bekas dan buku-buku ke Jakarta sana, ke alamat kantor pula, apa kata dunia? he..he..he.. Becanda lagi😀

Sebuah buku dengan sampul berwarna merah, warna kesukaannya (mungkin karena dulu dia ikut perjuangan membela tanah air di tahun ’45, makanya suka warna merah… oh tolong…ini nggak nyambung, hi..hi..hi..). Aku membelinya kira-kira dua bulan yang lalu dengan uang yang kutabung selama setahun, dari hasil kerja kerasku sebagai buruh kasar di tempat penggalian pasir <– maaf, yang ini jelas ngawur😀 Sudahlah Riyanthi, seriuslah sedikit! (Baiklah…:D).

Sebenarnya bukan buku dosa seperti yang dia sebutkan di pesan singkatnya di atas. Buku bersampul merah yang kukirimkan itu berisi percakapan-percakapan gila kami beberapa bulan terakhir ini, mulai dari yang tak penting sampai yang penting sekali. Misalnya ini nih: “Ingat makan sis!! Aku pun heran kemarin lama kali aku mandi. haha.. Btw, sakit perutku lah, mo ook.. hehe..” Pertamanya mengingatkan soal makan, tapi di akhirnya malah ngebahas soal pup, hmmm… Dan pastinya kujawab dengan bijak: “kau dorong aja lagi ke dalam, biar masuk ke perut lagi, biar buncit dikit”, emang cuma situ yang bisa gila? ha..ha..ha..ha.. Tapi tak semua kok percakapan kami diisi dengan hal-hal bodoh, jorok dan tak penting. Banyak pembicaraan yang berkualitas (versiku). Mau kuberi contoh? Ini dia, pesan singkat yang kuterima hari Senin, tanggal 27 September 2010, jam 15:12:

“Hmm, iya sih. Paling sebel kalo gitu. Tapi yakinlah sist, kita bakal banyak ketemu orang-orang nggak tepat dulu sebelum kita ktemu orang yang bener-bener tepat. Dan jangan berputus asa sist, kebaikan yang sistrek beri pasti bakal sistrek terima lagi, mungkin dari orang lain dan wujud kebaikan berbeda. Tapi sistrek nggakkan pernah sendiri… Selalu ada yang menemani dan mengerti sistrek lebih dari apa yang sistrek bisa bayangkan.”

Dilanjutkan jam 15:20:

“Tak satupun selain Tuhan yang dapat memenuhi secara memadai bagian dalam kehidupan kita yang telah Tuhan rancangkan untuk diisi oleh-Nya. Kebiasaan dan kesibukan akan memuaskan kita untuk waktu yang singkat, namun kehadiran Bapa kita yang memberi kuasa merupakan satu-satunya solusi. Yang harus kita lakukan adalah menempatkan diri kita dihadapan Tuhan sehingga Ia dapat leluasa bekerja.”

Dengan pesan sepanjang ini, aku bisa membayangkan usahanya untuk mengetikkan huruf demi huruf di handphone kecil, yang beberapa waktu lalu dikeluhkannya “handphoneku lambat sis, susah kali ngirim sms…”

Aku merasa bahwa percakapan-percakapan berharga ini seharusnya tak terhapus dan dilupakan begitu saja. Lalu, dengan senang hati pesan-pesan berharga dan kadang gila itu kuarsipkan di dalam buku merah tadi. Penuh dengan coretan, tulisan yang “naik-naik ke puncak gunung” (karna aku beli buku tak bergaris, hanya karna sampulnya warna merah, he..he..he..), malah kadang hampir tak terbaca, karena ditulis saat sudah setengah tertidur atau saat bangun tidur waktu nyawa masih belum terkumpul utuh😀 Harap maklum yah😉

Setelah dilengkapi, diperbaiki di beberapa halaman, tambahkan kalimat pembuka dan penutup, si buku merah segera kukemas dalam amplop cokelat.  Lalu, dikirimkan ke manakah si buku? Dan jreng, aku teringat kalau aku belum punya alamat yang dituju. Pffhhhh…karena waktu yang sudah mepet, dengan berat hati akhirnya aku harus bertanya langsung kepada sasaran (dan jelas aja acara mau ngasih surprise ini agak ketahuan sedikit), but it’s ok, hana masalah.  Dan saudara-saudara, proses tanya menanya alamat ini memakan waktu sekitar dua jam, karena ternyata dia tidak tahu alamat tempat tinggalnya, ha..ha..ha.. Ya sudah, kuputuskan untuk mengirimkan ke kantornya saja. Dan akhirnya kutitipkan buku merah itu kepada JNE dengan harap-harap cemas. Wow…berita yang kudapat kemudian, si buku merah yang satu-satunya di dunia itu sampai dengan selamat, tepat di waktu yang diharapkan, 23 November 2010, di hari ulang tahunnya. Terima kasih Tuhan.

Aku tak tahu dengan jelas bagaimana perasaannya ketika mendapatkan buku merah yang kukirimkan. Apakah benar air matanya berlinang (he..he..he..),  lalu kaget atau merasa biasa saja atau berpikir “buku apa ini? nggak penting”. Tapi seperti yang aku tuliskan di sana, aku hanya berharap suatu saat, entah kapan, buku ini bisa berguna.

Biarlah buku catatan ini menjadi kenangan
Sepotong kisah perjalanan  dalam hidupmu
Mungkin bisa menjadi pengingat saat kau rapuh
Bahwa kau adalah berkat, kau adalah semangat.

Hhmmm…akhirnya satu tugas terselesaikan dengan baik. Mantap!!! Eits, masih ada satu lagi. Rencana yang terpikirkan secara tiba-tiba tadi malam. Masih terkait dengan hari ulang tahun. Inilah yang menyebabkan aku dengan kurang ajarnya mengangkat telepon darinya siang dan menyampaikan, “tunggu…tunggu…tunggu…aku lagi sibuk, lagi nggak bisa diganggu, ntar aku telpon yah…”, sementara dianya belum mengatakan apapun. Maafkan saya dek🙂

Yes, benar sekali, 1000 untuk Anda, tapi ngutang dulu yah😀 Sejak pagi hingga siang tadi aku berkutat dengan hal yang menjadi kesukaanku mengolah gambar dan video. Aku bermaksud mengirimkan sebuah video untuknya, sebagai kelanjutan dari si buku merah (memang bisa dikatakan, ini adalah cerita bersambung, he..he..he..). Sebuah video sederhana berisi rangkaian foto-foto dirinya, dilengkapi dengan pesan dan harapan baik, dan diiringi dengan musik yang aku yakin bisa membuat suasana menjadi sangat dramatis🙂 Sebenarnya ingin meng-upload video itu, tapi aku malu, karena masih video “ecek-ecek”😀

Sekitar siang menjelang sore, akhirnya si video berhasil dirampungkan. Tentunya dengan acara garuk-garuk kepala, bolak balik salah dulu, soalnya baru kali pertama menggunakan fasilitas iMovie, yang ternyata menyenangkan (setelah tahu memakainya, he..he..). Proses pengiriman pun dimulai, dengan harapan file videonya terkirim sebelum dia pulang kerja. Yes, terkirim…terkirim…Meski ternyata belum ditonton hari ini (dapat bocoran tadi, he..he..), tak apa, yang pasti filenya sudah sampai di sana.

Dua rencana akhirnya terlaksana tepat waktu. Terima kasih lagi Tuhan. Menyenangkan sekali hari ini, dan memuaskan. Misi terakhirku hari ini: meneleponnya untuk secara langsung (langsung lewat telepon maksudnya :D) mengucapkan selamat atas peringatan hari lahirnya. Wow…sampai jam 23:26 handphonenya belum aktif. Pasti masalahnya nggak jauh-jauh dari lowbat, lagi hang atau mungkin tercebur di closet (yang terakhir ngarang, he..he..he..). Benar saja, tak lama aku mendapatkan pesan singkat: “Pantes gk bunyi2 hpku di jacket, ternyata mati tadi, berserakan jatuh di rumah Kak Lena..Hehe”.

Meski dengan sedikit terkantuk-kantuk, di jam-jam menjelang tanggal 24, kami masih menyempatkan bercerita sedikit tentang perayaan ulang tahunnya hari ini. Ada perayaan kecil di kantornya, dan dia mendapatkan kado. Sepulang kerja, perjalanannya dilanjutkan ke rumah kakak tertuanya, Kak Lena. Dan ceritanya Kak Lena memberikan kejutan, begini: “Kejutannnn……”, he…he…he… Bisa kubayangkan serunya di sana, dan pastinya habislah handphone-nya yang sudah layak diganti itu, “digosa” keponakan-keponakannya sampai berserakan tak berbentuk😀

Hhhmmm…gembira sekali bisa menceritakan secara detail apa yang terjadi hari ini. Mungkin inilah posting-an terpanjang dalam sejarahku di dunia blogging🙂

Pada waktu yang sama setahun yang lalu, suasananya benar-benar berbeda. Berbeda untukku. Aku mengingat ulang tahunnya yang lalu, tak sehebat, tak sesenang aku menyambutnya tahun ini. Meski banyak masalah sebenarnya tak bisa dijadikan alasan untuk tak merayakan ulang tahun teman terbaik dengan  cara baik. Tapi hari ini, tahun ini, aku bisa menghadapi masalahku dengan cara yang berbeda, dan tentunya lebih baik dari tahun sebelumnya. Kemudian, bisa menyambut ulang tahunnya dengan riang gembira, ho..ho..ho… Hari ini, di hari ulang tahun adek kecilku yang “nakal”, aku pun ikut merenung, bahwa semakin hari kualitas hidup haruslah semakin diperbaiki. Dan tentu saja yang berulang tahun hari ini, yang sedang kuceritakan ini, punya pengaruh dalam perbaikan kualitas hidup itu🙂

“Hari Ini, Setahun Yang Lalu” akan menjadi bahan refleksi di tahun berikutnya.  Dan meski, 23 November 2010 akan berlalu, tetapi semangat dan suka citanya akan tetap tinggal di hatiku, di hati kami.

This is the day the Lord has made. Bersuka cita dan bersyukurlah. Selamat ulang tahun adek kecilku yang “nakal”, sahabat terbaik dalam suka dan duka. Dan teruslah begitu…

Penutup:

Hhm…sebenarnya pengen ikut merayakan ulang tahun ini langsung di Jakarta, tapi apa daya tiket Garuda sudah fully booked untuk tanggal 23 November 2010, wahahahaha…

riyanthi sianturi

medan, 23-24 november 2010

11 thoughts on “Hari Ini, Setahun Yang Lalu

  1. Wah seperti seroang penulis profesional

    Aku hendak mengutip kata-kata yang berkualitas ini di wall facebook ku:
    “Tak satupun selain Tuhan yang dapat memenuhi secara memadai bagian dalam kehidupan kita yang telah Tuhan rancangkan untuk diisi oleh-Nya. Kebiasaan dan kesibukan akan memuaskan kita untuk waktu yang singkat, namun kehadiran Bapa kita yang memberi kuasa merupakan satu-satunya solusi. Yang harus kita lakukan adalah menempatkan diri kita dihadapan Tuhan sehingga Ia dapat leluasa bekerja.”

    Izinkanlah saya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s