Melawak Dengan Orang Yang Sudah Mati

Jangan katakan karna aku sedang sendiri malam ini makanya jadi ngeblog, hahahahaha…

Jangan katakan pula aku lebay karna rebahan di atas kasur dari tadi siang sambil memutar satu lagu dari Buku Ende sampai 55 kali (syukur juga iTunes ini mau menampilkan “Play Count” lagu yang diputar, jadi aku tak perlu menghitung sendiri, hehe…).

Jangan katakan aku kurang kerjaan karna melahap satu buku dalam lima jam. Ini memang karna bukunya bagus untuk dibaca.

Jangan katakan pula aku tukang mimpi waktu membayangkan kamar yang dindingnya kayak kamar mandi ini pengen kusulap jadi warung kopi dan teh (walau jelas tak mungkin, bisa-bisa aku diusir dengan tidak hormat dan disuruh bayar ganti rugi sama yang punya kost, hahahaha…).

Baiklah, jika kamu sudah merasa rileks, mari kita masuk ke topik pembicaraan yang sebenarnya🙂

Hhhhmmm… (temanku bilang kata ini tandanya sedang berpikir),

Tadi pagi tak bisa kubilang biasa-biasa saja. Kenapa? Pas beli sarapan di tempat Cici yang di simpang kostku, dia bilang, “Udah lama nggak keliatan, lagi sibuk ya?” Wowww…aku nggak nyangka dia ingat🙂 Ini lah dia Cici yang pernah mengira aku wartawan, karna pernah pagi-pagi, beberapa hari berturut-turut, jam enam sudah sarapan, trus nenteng tas kamera pula. Hhhmmm…padahal tampangku lebih cocok jadi artis ketimbang wartawan, wakakakakakaka…

Pas nyampe di warung Namboru yang di simpang satunya lagi, dia bilang, “Koran yang mana? Yang harga seribu ini nggak ikut?”, kujawab “Enggak Namboru, dua aja…”. “Udah lama kau tak keliatan, selamat tahun baru dulu lah”, katanya lagi sambil menyalamku. Inilah dia Namboru yang protes waktu dulu kupanggil Bu. Dia tanya, “kau orang Batak ya?”. “Iya, Bu…”. “Jangan panggil ibu lah”. “Oh, iya Namboru…”, hehehehe… Baiklah tentang Namboru ini kita bahas panjang lebar di lain waktu, agar tidak melebar dari topik utama😀

Dari dua moment ini aku berpikir, ginilah kalau sudah terkenal, dicari-cari orang, hahahahaha… :becanda:

Tapi aku senang lah pastinya, diingat sama Cici tempat beli sarapan, diingat sama Namboru tempat beli koran (lain kali beli kopi juga ah di sana, hehe…). Eh, Koko yang jual pansit di Simpang Kampus itu juga aku rasa ingat aku😀 Eh, Ibu yang jual nasi gurih dan lupis di Sei Wampu itu juga ingat aku kok, kalau aku datang sendiri, dia pasti nanya, “Dibungkus? Mana temannya?”. “Iya Bu. Lagi ke luar kota”, ini jawabanku, hehehe… Eh, Mbak yang di tukang Mie Ayam itu juga ingat kalau aku pesan ayam bakar, harus pahanya, nggak boleh dada (soalnya di bagian dada terlalu banyak dagingnya, padahal kita kan cari tulang-tulangnya, hahahahaha). Yang tak ingat mungkin Cici yang jual mie balap (pake B2) yang di seberang kostnya Dek Domi Jin, karna tiap beli sarapan di sana, tetap aja dia nanya aku mau pesan apa (segitunya ya, maksa…hahahahha…). Makadaripadaitu, memang pantaslah pagi tadi kusebut tak biasa, malah harusnya aku bersyukur🙂

Maka mari kita bergerak ke paragraf selanjutnya dan tidak hanya membicarakan makanan saja😀

Orang-orang sudah ramai ketika kami tiba di Aula Fakultas Ekonomi USU sekitar jam 09:30 WIB. Sesuai dengan jadwal, temanku segera memasuki aula untuk registrasi. Sementara menunggu, aku mulai mencet-mencet tombol di handphone, dan dengan bangga saya mengumumkan bahwa ada game Quadrapop paporit saya di hape ini, horeeeeee….😀 Tak salahlah main game sambil nunggu teman yang satunya lagi sampai, daripada marappang-appang atau mar-batu rese, hahahahahaha…

Dan jam 10:30, tibalah giliranku untuk registrasi. Dapat antrian ketiga di Meja 6. Wow…dua orang yang antri di depanku lulus pemberkasan dan mereka berhak ikut ujian. Segera kuletakkan semua berkas yang diminta di meja, lalu si Mbak mengecek semuanya. Dan semua berkas lengkap. Sempurna!!! Saatnya menempelkan materai di surat pernyataan dan menandatanganinya. Maka sebelumnya aku membaca setiap kata di surat pernyataan itu.

Dalam setiap paragraf yang tertulis, selalu diingatkan bahwa ijazah tertinggi yang dimiliki adalah Diploma III (D3). Lalu aku dengar mbak pemeriksa berkas di meja sebelah nanya ke pendaftar, aku tak ingat persis apa yang dikatakannya, tapi intinya menanyakan apakah si pendaftar memiliki ijazah lebih tinggi dari D3. Tapi kok mbak yang memeriksa berkasku ini nggak nanya ke aku ya?

Baiklah. Maka dengan kerendahan hati aku yang berinisiatif untuk bertanya, “Mbak, ini kalau saya sudah punya ijazah S1 gimana?” Si Mbak yang ternyata sudah merapikan berkasku langsung ngeliat ke aku, trus diam beberapa detik, baru menjawab, “Oh, kalau punya ijazah lebih tinggi dari D3 nggak bisa ikut ujian, Mbak…” Lalu temannya, yang sepertinya koordinator dari tim seleksi ini mendekat dan nanya ada apa. Kemudia si koordinator menjelaskan bahwa tes itu diperuntukkan bagi D3. “Kami sudah diwanti-wanti bahwa tidak boleh punya ijazah lebih tinggi dari D3. Tapi kalau mau tau lebih jelas, silahkan jumpai Bapak yang di sana…”, kira-kira begitu yang disampaikan Pak Koordinator ke aku. “Oh, OK…makasih Pak, makasih Mbak”, kataku sambil tersenyum dan mengambil kembali semua berkas yang sudah kuserahkan sebelumnya.

Segera aku bergeser ke meja Bapak yang ditunjuk tadi. Sudah ada beberapa orang di depanku, rata-rata ingin meminta penjelasan atau komplain karna tak lolos registrasi (dan berarti tak bisa ikut tes tertulis). Akhirnya tiba giliranku. “Ayo yang S1 dulu”, kata si Bapak memanggil para pendaftar yang ingin minta penjelasan seputar ijazah yang lebih tinggi dari D3. Panjang lebar si Bapak menjelaskan, dan sesekali aku manggut-manggut menyetujui apa yang beliau sampaikan.

Setelahnya, seorang laki-laki di sebelahkan sedikit protes dengan pernyataan si Bapak tentang integritas. “bla…bla…bla…Pekerjaan saya yang sekarang lebih baik dari ini. Saya tidak pernah bekerja di lembaga I*d*n*sia, saya bekerja di ***, dan di tempat saya bekerja, pekerjaan itu by target…Lagian saya juga didaftarkan saudara saya, istri saya…bla..bla…bla…” (tak perlu lah kusebutkan semua yang disampaikan laki-laki yang tadi). Si Bapak tadi kayaknya shock juga mendengar protes dari laki-laki itu.

Dalam hati aku nyeletuk, “E he, hudoltukhon ma haroa dongan on…”😀 Yah, maksudku begini, agak gak enak juga sih pas si Bapak mengatakan integritas kami kurang baik, karena pas pendaftaran dan tes online, tetap melanjutkan proses meski sudah diingatkan bahwa ijazah tidak boleh lebih tinggi dari D3. Tapi apa tak bisa lagi dia bicara baik-baik, dengan bahasa yang sopan, dan rendah hati tentunya. Bukannya sirik sama beliau yang kerja di ***, soalnya aku juga dulu kerja di ***, sudah dua tempat, lembaga luar (negeri) yang tak bisa kubilang organisasi kecil juga, tapi kayaknya nggak ada yang perlu digembar gemborkan, biasa aja lah, tokh masih banyak orang lain dengan pekerjaan yang lebih baik dari kita, jadi tak ada yang perlu disombongkan. Tong na salpu do portibi on, hehehe… Yang kedua, tokh dia yang ikut mendaftar (terlepas istrinya yang mendaftarkan), trus dia bilang kerjaannya yang sekarang lebih bagus, jadi ngapain dia musti repot-repot mau ikut registrasi dan ujian yah? Akh, heran aku bah…

Salut juga dengan Bapak yang ngasih penjelasan itu, tak terpancing emosinya buat menjawab si kawan yang protes. Trus si Bapak melihat ke arahku, trus nanya, menurut Mbak gimana? Aku jawab, “Saya sih bisa terima Pak kalau saya tak bisa ikut tes, cuma saya mau tanya, gimana prosedurnya nanti kalau tes untuk S1?” Hahahahahhahahaha…Nggak nyambung memang dengan protes si kawan tadi, tapi niatku memang mau tanya itu.  Karena tadi aku sudah mendengar penjelasan si Bapak tentang mengapa kami yang punya ijazah lebih tinggi dari D3 tak bisa ikut tahap berikutnya. Dan menurutku pernyataan Beliau bisa diterima dengan akal sehat. “Jurusan D3 dan S1 saya kan beda Pak, nantinya gimana ya?”, lanjutku. “Oh, kita pakai yang S1-nya”, kata si Bapak dan dilanjutkan dengan penjelasan lainnya seputar pelamaran lewat jalur S1. Setelah selesai, si kawan yang protes tadi (aku tak tau nama beliau ini) langsung pergi tanpa pamit. Ih, lucu kali si kawan itu lah, nggak main cantik, tak mau lah aku niru kek gitu😀 Aku salam si Bapak sambil bilang, makasih infonya ya Pak🙂

**Kurasa ya, menurut penerawanganku, teman-teman yang sama-sama mendengar penjelasan dari si Bapak (dan rata-rata tak terima kalau yang punya ijazah S1 tak diloloskan registrasi), nyeletuk tentangku dalam hati, “Ai na rittik do haroa inanta on, bukannya protes, malah nanya yang lain, pake senyum-senyum pulak…” Hahahahha… Biarin akh, aku tak mau di kemudian hari mendapat masalah berat karena keputusan yang salah di saat sekarang. Semoga aku tetap bersabar sampai ketemu rejeki yang ditujukan Tuhan untukku, dan aku yakin itu pasti yang terbaik. Amin🙂

Pulang ke kost-an, aku membawa hati yang isinya campur aduk. Ada perasaan lega, tapi ada lagi perasaan lain, serasa ada satu yang hilang. Aku tak mau bohong dan bilang aku baik-baik saja. Sebenarnya tadi itu, selain plong, aku merasa bahwa satu peluang sudah lepas lagi. Pengangguran macam aku ini melepaskan satu peluang. Makanya aku bilang bercampur aduk. Sebentar aku merasa keputusanku sudah tepat, tapi masih tertinggal juga perasaan tak rela. Ini masih wajar kan ya?🙂

Sendiri di kamar, sambil mendengar salah satu lagu kesukaanku “Ise Do Alealenta” berulang-ulang, kembali aku berpikir sambil mengingat apa yang sudah kulakukan tadi. Malah sekarang tambah lagi topik yang kupikirkan, “Mesti mencari peluang dan harapan baru lagi lah… Udahlah lagi kek gini, ke mana pula lah semua kawan ini, tak ada yang keliatan, paling enggak kan nanya apa aku baik-baik aja, atau yang lebih baik lagi meski tak bisa kasih solusi ya setidaknya nemanin supaya awak tak makin suntuk…”. Memang kalau sedang sendiri dan memulai memikirkan yang tak baik, makin datanglah sibolis manggugai roha…

Sambil rebahan, kutarik satu buku dari puluhan buku (yang sengaja kususun di sebelah kasur untuk memudahkanku kalau mau baca) di sebelahku. Tak kuperhatikan lagi sudah jam berapa, tapi waktu aku selesai membaca buku itu, hari sudah gelap.  Tapi, sambil membaca buku, pelan-pelan aku mulai mengalihkan pikiranku, mulai menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan berubah menjadi pikiran-pikiran konyol nan cerdas seperti yang diungkapkan penulis buku yang keren itu🙂 (Baiklah, meski tak kupungkiri, masih tetap aja ada sedikit pikiran jelek yang tertinggal. Hushh…hush…pigi sana kau, menjauhlah dariku….). Hhhmmm… teman-teman? Mungkin mereka punya urusan masing-masing yang lebih penting daripada sekedar mengurusi aku yang agak kebingungan karna baru saja gagal registrasi ujian😀 Lagian apa gunanya aku mendengarkan lagu “Ise Do Alealenta” sampai 55 kali diulang kalau tokh aku tetaaaaaaapppppppp aja mencari dan berharap ada teman untuk berbagi bingungku🙂

Hhhmmm…

Banyak hal yang terjadi sejak tadi pagi. Keren juga kayaknya kalau kusimpulkan pelajaran apa yang kudapatkan hari ini dan keputusan apa yang sudah kutetapkan setelah mengalami banyak kejadian hari ini🙂

1. Mari memperbanyak teman dan sering-sering bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, meski hanya ibu-ibu tua penjual koran atau penjual mie yang tangannya cekatan sekali saat memasak kwetiau polos, hehehehehe… Apalagi kalau ditambah senyuman, dan ucapan terima kasih (walaupun dagangannya kita ambil nggak gratis, pake bayar). Ada saja hal-hal positif yang kita dapatkan dari orang-orang sekitar kita. Rajin-rajin senyum yah, tapi tolong kurangi senyum-senyum seorang diri, jangan sampai Anda harus berhadapan dengan psikiater, hahahaha…

2. Mari berlaku sopan dan hormat terhadap setiap orang. Karena sepertinya kita tak mendapat kerugian apapun kalau kita sopan dan hormat.

3. Marilah kita sering-sering melihat ke atas, dan tak lupa melihat ke bawah pula. Supaya apa? Agar tak terlalu mudah mengeluarkan kata-kata yang menyombongkan diri, yah segondok apapun, seemosi apapun kita. Tak baik itu…🙂

4. Marilah belajar untuk tidak berbohong kepada diri sendiri. Akui saja semua, jangan berpura-pura merasa semua baik-baik saja, namun kenyataannya tidak. Misalnya, tak memungkiri pada suatu waktu kita sedang bersedih, dll. Mengatakan yang sebenarnya itu lebih baik, walau kadang memalukan, hehe… (Inilah yang terus-terusan masih kupelajari, hhmmm….semangat!!!!).

5. Saat senang maupun susah, sering-seringlah mendengar lagu dari Kidung Jemaat atau Buku Ende, secara tak disadari sebenarnya lirik dalam kedua buku ini sangatlah mujarab🙂 (Ini hanya pandangan pribadiku loh, dan aku tak bilang kalau lagu-lagu rohani lainnya tak baik…).

6. Teman tetaplah teman, dengan segala bentuk dan lakunya. Kalaupun terkadang tak ada teman yang menemani, apalagi saat susah, mari kita ucapkan, “bah na songon i ma jo”🙂 Mari belajar menerima orang lain apa adanya. Tapi aku sendiri berpikir, bagaimana pun yang telah terjadi, semoga aku diberkati dan tetap memberikan hati untuk teman yang membutuhkanku. Tak bijak membalaskan yang tak baik (buang jauh-jauh pikiran ini…!!).

7. Saat menghadapi suatu hal yang mengganggu pikiran, mari mengambil waktu hening beberapa saat, agar pikiran bisa kembali jernih.

8. Mari menghibur diri sendiri, carilah hal-hal yang bisa menghiburmu, tapi jangan melakukan yang aneh-aneh ya, hehehehe…

9. Tuliskanlah pengalaman dan pergumulanmu, agar suatu saat kau bisa membukanya lagi, lalu tersenyum saat membacanya🙂

10. Dan yang terakhir, marilah berkata jujur, yang meski terasa tak mengenakkan sekarang, tapi ternyata berdampak positif di kemudian hari.

Membaca buku Ompung Odong-Odong tadi sangat besar manfaatnya kurasa. Aku cekikikan sendiri di kamar (tapi aku masih waras ya, hehehe…), tertawa yang benar-benar tertawa. Dan ada beban yang lepas (meski belum semua, aku rasa besok pagi pikiranku sudah bisa segar lagi). Beliau ini memang pintar kali bercerita, dan marlawak tentunya😀 Yah, seorang Mula Harahap (almarhum), menjadi sumber inspirasiku hari ini, untuk berkata apa adanya, termasuk untuk menuliskan perjalananku hari ini, di blog ini. Ternyata sampai kita mati pun, masih tetap bisa menjadi inspirasi yang baik buat orang lain. Semoga aku kelak pun bisa seperti ini. Terima kasih “Ompung Mula”.

Semoga besok aku bangun dengan pikiran yang segar dan positif, dengan penuh rasa syukur. Amin

**Oh iya, ternyata sudah tanggal 23, hari ini adikku berulang tahun. Selamat ulang tahun ya Dek :)**

Sun, 1:12 AM, 23/01/2011

4 thoughts on “Melawak Dengan Orang Yang Sudah Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s