Antara “Sinting” dan Orang-Orang Penting

Yang satu tak mengangkat telepon atau membalas sms kalau sedang “sinting”, yang satunya akan “sinting” kalau telepon atau sms tak dibalas. Maka pada saat yang satu “sinting”, yang satu lagi akan terimbas “sinting” dalam caranya sendiri.

Yang satu:

Memandangi layar telepon yang berkedip-kedip, lalu pergi. Angka demi angka, jumlah pesan masuk bertambah, tanpa balasan.

Yang satunya:

Menekan tombol Call sekali dalam sekian menit, untuk nomor tujuan yang sama. Karakter demi karakter diketikkan dan dikirimkan berulang.

Sinting yang satu kemudian berubah menjadi rasa bersalah. Sinting yang satunya beralih menjadi kuatir.

Apakah salah dengan menjadi “sinting”? Tentu saja, meski tak semua.

Jadi, mengapa harus “sinting”?

Ada kalanya karena “caring”, untuk orang-orang berharga, yang sangat penting.

Melakukan hal-hal kecil dan sederhana, tapi sangat bernilai.

Seperti “Victorian Photograph Album” yang baru saja tiba digenggaman. Ini kejutan, kejutan perhatian.

Meski ucapan terima kasih belum dapat mengimbangi yang diberikan, biarkanlah tetap disampaikan.

Terima kasih. That’s all, Pop.

PS: Jangan terlalu baik, Pop.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s